Inhibitor immune checkpoint umumnya menyebabkan ruam kulit, diare, dan kelelahan, namun dalam kasus yang jarang, sistem imun bisa menyerang organ normal dan memicu peradangan pada tiroid, paru-paru, usus, hati, dan organ lainnya. Karena efek samping ini dapat muncul baik selama maupun setelah pengobatan berakhir, prinsip utamanya adalah segera memberi tahu tim medis begitu muncul gejala baru, sekecil apa pun itu.
Ringkasan Utama
- Efek samping yang paling umum adalah ruam kulit, diare, dan kelelahan (National Cancer Institute AS, NCI).
- Pada kasus yang jarang, dapat muncul dermatitis, pneumonitis (penyakit paru interstisial), kolitis, diabetes akibat pankreatitis, hepatitis, hipofisitis, miokarditis, nefritis, gangguan fungsi tiroid, dan gangguan sistem saraf (NCI).
- Di antara peradangan terkait imun, yang relatif sering terjadi adalah kolitis, gangguan sistem endokrin (hipofisis, adrenal, tiroid, pankreas), gangguan muskuloskeletal, pneumonitis, dan masalah kulit; sebagian besar dapat dikendalikan dengan steroid (NCI).
- Gangguan hormon biasanya bersifat permanen dan mungkin tidak pulih meskipun pengobatan dihentikan (Panduan NCCN untuk pasien).
- Efek samping dapat muncul bukan hanya selama pengobatan, tetapi juga setelah pengobatan selesai, sehingga NCCN merekomendasikan agar pasien tetap waspada terhadap gejala baru setidaknya selama 1 tahun setelah pengobatan berakhir.
Apa Bedanya Efek Samping Imunoterapi dengan Kemoterapi Biasa?
- Inhibitor immune checkpoint bekerja dengan melepaskan 'rem' sel imun agar menyerang sel kanker, bukan menyerang sel kanker secara langsung, sehingga sifat efek sampingnya pun berupa 'sistem imun yang menyerang organ normal'.
- Berbeda dengan kerontokan rambut atau penekanan sumsum tulang akibat obat kemoterapi sitotoksik, peradangan akibat imunoterapi dapat muncul di hampir semua organ, seperti kulit (perubahan warna, ruam, gatal), paru-paru (batuk, nyeri dada), usus besar (nyeri perut, diare), pankreas (diabetes), hati, hipofisis, jantung, ginjal, dan sistem saraf (kelemahan otot, penurunan sensasi, sesak napas) (NCI).
- Sama seperti efeknya yang bisa muncul terlambat atau responsnya bisa berlanjut setelah pengobatan selesai, efek samping pun memiliki ciri khas dapat muncul jauh setelah pengobatan berakhir.
Gejala Apa yang Harus Segera Dilaporkan? — Urutan Pemeriksaan
- Tahap 1: Pencernaan — jika diare terjadi berkali-kali dalam sehari, nyeri perut hebat, atau feses berwarna hitam atau bercampur darah, segera hubungi tim medis.
- Tahap 2: Pernapasan — jika sesak napas atau batuk memburuk disertai nyeri dada, perlu diperiksa kemungkinan penyakit paru interstisial.
- Tahap 3: Endokrin — rasa lemas, sembelit, kulit kering, berat badan naik, dan sensitif terhadap dingin bisa menjadi tanda gangguan fungsi tiroid.
- Tahap 4: Sistemik dan saraf — demam di atas 38°C, tekanan darah tinggi mendadak, kebingungan, halusinasi, kejang, melepuhnya kulit atau ruam yang menyebar cepat, serta mata atau kulit yang menguning merupakan tanda-tanda darurat.
- Tahap 5: Jika tidak dapat menghubungi tim medis, segera ke unit gawat darurat terdekat dan beri tahu bahwa Anda sedang menjalani pengobatan dengan inhibitor immune checkpoint.
Bagaimana Efek Samping Diperiksa dan Dikelola di Korea?
- Di rumah sakit Korea, sebelum memulai pengobatan dilakukan tes darah untuk memeriksa fungsi tiroid, hati, dan ginjal, dan pemeriksaan ini diulang sebelum setiap siklus pengobatan; jika ditemukan kelainan, pemberian obat dapat ditunda atau disesuaikan.
- Efek samping umum seperti ruam atau diare biasanya ditangani di rawat jalan dengan salep atau obat antidiare, sedangkan jika dicurigai adanya peradangan terkait imun, tim medis yang menentukan apakah perlu pemberian steroid atau rawat inap.
- Bagi pasien dari luar negeri, disarankan untuk membawa ringkasan berbahasa Inggris yang mencantumkan nama obat dan tanggal pemberian terakhir, agar dapat diinformasikan kepada tenaga medis di negara asal setelah pulang. Sebaiknya gejala baru dilaporkan baik kepada tim medis di Korea maupun tenaga medis di negara asal selama sekitar 1 tahun setelah pengobatan.
Tanya Jawab — Diare Terus Berlanjut, Apakah Bisa Karena Imunoterapi?
Diare dan kolitis memang termasuk efek samping umum dari inhibitor immune checkpoint (Panduan NCCN untuk pasien). Jika disertai nyeri perut atau feses berwarna hitam/bercampur darah, kemungkinan kolitis perlu segera dilaporkan kepada tim medis, bukan ditahan. Mengatur sendiri obat antidiare tanpa konsultasi tidak disarankan.
Tanya Jawab — Bisakah Efek Samping Muncul Setelah Pengobatan Selesai?
Ya, bisa. Efek samping imunoterapi dapat muncul kapan saja, baik selama maupun setelah pengobatan. Oleh karena itu, Panduan NCCN untuk pasien merekomendasikan agar pasien tetap waspada terhadap gejala baru setidaknya selama 1 tahun setelah pengobatan selesai, membawa kartu dompet imunoterapi, dan memberi tahu riwayat pengobatan kepada tenaga medis lain. Khususnya masalah hormon seperti tiroid dan adrenal dapat bersifat permanen, sehingga pemeriksaan berkala tetap diperlukan.
Sumber dan Catatan Penting
- Artikel ini disusun berdasarkan catatan efek samping imunoterapi dan terapi target (National Cancer Institute AS/NCI, Panduan NCCN untuk pasien, Pusat Informasi Kanker Nasional) serta catatan seputar imunoterapi.
- Konten ini disusun untuk tujuan pemberian informasi medis umum, dan metode diagnosis, pengobatan, serta hasilnya dapat berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing individu. Diagnosis dan pengobatan yang akurat harus ditentukan melalui konsultasi langsung dengan tenaga medis.
Terima pendapat tertulis
Kirimkan rekam medis Anda; dokter rumah sakit rujukan tersier akan menelaahnya dan dalam 5 hari kerja kami serahkan surat pendapat, 3 pilihan rumah sakit, dan perkiraan biaya.
Ajukan tinjauan awal