Adanya sirosis hati tidak selalu berarti kemoterapi sama sekali tidak bisa dilakukan. Cakupan pengobatan yang memungkinkan bergantung pada tingkat fungsi hati dan kondisi tekanan vena porta pasien.
Ringkasan Inti
- Meski ada sirosis hati, kemoterapi itu sendiri bukan berarti tidak mungkin dilakukan — pengobatan yang bisa dijalankan bergantung pada tingkat fungsi hati (Child-Pugh) dan tekanan vena porta.
- Kanker hati adalah jenis kanker yang penentuan pengobatannya tidak hanya melihat stadium, tetapi juga mempertimbangkan fungsi hati dan kondisi umum tubuh secara bersamaan — sistem ini sering disebut dengan istilah seperti BCLC.
- Jika fungsi hati sudah menurun jauh, kemoterapi justru bisa memperparah kerusakan hati, sehingga fokus pengobatan beralih ke pengendalian gejala, menjaga fungsi hati, dan mempertimbangkan kemungkinan transplantasi.
- Angka harapan hidup relatif 5 tahun untuk kanker hati di Korea adalah 40,4% (Statistik Registrasi Kanker Nasional 2019–2023, Pusat Registrasi Kanker Pusat National Cancer Center Korea).
- Bagi pasien dengan hepatitis B atau C yang menyertai, prinsipnya adalah tetap melanjutkan obat antivirus tanpa menghentikannya, baik sebelum maupun sesudah pengobatan kanker hati.
Apakah Pasien dengan Sirosis Hati Tidak Bisa Menjalani Kemoterapi?
- Ada kasus yang masih bisa dan ada yang sulit dilakukan. Kanker hati umumnya muncul di atas kondisi hepatitis kronis atau sirosis hati, sehingga selain stadium kanker, yang menentukan arah pengobatan adalah tingkat fungsi hati (Child-Pugh, yang menggabungkan kadar bilirubin, albumin, nilai pembekuan darah, serta ada tidaknya asites dan jaundice) dan tekanan vena porta.
- Meski ukuran tumor sama, pengobatan yang bisa dilakukan berbeda tergantung fungsi hati. Jika fungsi hati relatif baik, dokter dapat mempertimbangkan terapi obat sistemik (kombinasi inhibitor imun checkpoint dan inhibitor angiogenesis, atau terapi target oral) maupun terapi lokal seperti kemoembolisasi arteri hati (TACE).
- Sebaliknya, jika fungsi hati sudah menurun jauh, kemoterapi justru dapat memperburuk kerusakan hati, sehingga fokus bukan lagi pada pengobatan kanker, melainkan pada pengendalian gejala, menjaga fungsi hati, dan mempertimbangkan kemungkinan transplantasi. Penilaian ini hanya bisa dilakukan dengan menggabungkan hasil tes darah dan pencitraan, sehingga konsultasi dengan tim medis yang menangani sangatlah penting.
Bagaimana Fungsi Hati Secara Konkret Memengaruhi Pilihan Pengobatan?
- Dalam kanker hati, selain stadium, ada tiga hal yang pasti dilihat bersamaan: jumlah, ukuran, dan ada tidaknya invasi pembuluh darah pada tumor; fungsi hati (tingkat Child-Pugh); serta kondisi umum pasien. Karena itu, pengobatan tidak ditentukan hanya berdasarkan stadium TNM saja, melainkan menggunakan sistem stadium gabungan dari ketiga faktor tersebut.
- Pada stadium lanjut (dengan invasi pembuluh darah atau metastasis di luar hati), terapi obat sistemik menjadi pengobatan utama, dan kombinasi inhibitor imun checkpoint dengan inhibitor angiogenesis telah masuk sebagai standar lini pertama. Namun, syarat utamanya tetap sama: fungsi hati harus mampu menahan beban pengobatan tersebut.
- Inilah alasan mengapa mengirimkan hasil tes fungsi hati (bilirubin, albumin, AST/ALT, INR, trombosit, dan lainnya) bersama hasil pencitraan menjadi inti dari proses tinjauan awal.
Apa Saja Efek Samping Umum Selama Kemoterapi, dan Apakah Pasien Sirosis Hati Perlu Lebih Berhati-hati?
- Obat kemoterapi tidak hanya memengaruhi sel kanker, tetapi juga sel normal yang membelah cepat, sehingga bisa menimbulkan efek samping seperti mual-muntah, sariawan, rambut rontok, kelelahan, penurunan jumlah sel darah putih, dan kesemutan di tangan-kaki. Sekitar 70–80% pasien mengalami mual-muntah, yang biasanya muncul dalam 1–8 jam setelah pemberian obat dan bisa berlangsung hingga 1 minggu (National Cancer Information Center).
- Penurunan jumlah sel darah putih umumnya mulai terjadi pada minggu pertama pengobatan, mencapai titik terendah di minggu kedua, dan pulih pada minggu ketiga (National Cancer Information Center). Jika muncul demam 38°C atau lebih, atau menggigil, pasien harus segera menghubungi tim medis atau mengunjungi IGD.
- Bagi pasien dengan sirosis hati, karena fungsi hati sudah berada dalam kondisi yang rentan, perubahan seperti jaundice, asites, atau penurunan kesadaran bisa saja muncul, sehingga pengawasan selama rawat inap dilakukan lebih ketat. Karena itu, pemeriksaan darah untuk memantau nilai fungsi hati secara berkala di setiap siklus pengobatan menjadi hal yang wajib dilakukan.
Bagaimana Urutan Persiapan Sebelum Pengobatan Dilakukan?
- Tahap 1 Pemeriksaan pencitraan — CT perut dengan kontras dan MRI hati, bila memungkinkan dengan pencitraan pada beberapa titik waktu untuk melihat kecepatan perubahan tumor.
- Tahap 2 Pemeriksaan fungsi hati dan penanda tumor — memeriksa kadar bilirubin, albumin, AST/ALT, INR, trombosit, kreatinin, serta nilai AFP dan PIVKA-II.
- Tahap 3 Pemeriksaan riwayat hepatitis — meninjau hasil tes hepatitis B dan C bersama riwayat penggunaan obat antivirus.
- Tahap 4 Penentuan arah pengobatan — berdasarkan seluruh data tersebut, ditentukan apakah jalur reseksi, ablasi, embolisasi, terapi obat sistemik, atau transplantasi yang memungkinkan, atau apakah menjaga fungsi hati harus didahulukan dibanding kemoterapi.
Tanya Jawab — Jika Ada Sirosis Hati, Apakah Tetap Bisa Menjalani Terapi Obat Sistemik?
Bisa, selama fungsi hati masih mampu menahan beban pengobatan. Pada kanker hati stadium lanjut (dengan invasi pembuluh darah atau metastasis di luar hati), kombinasi inhibitor imun checkpoint dan inhibitor angiogenesis sudah menjadi standar lini pertama, dan terapi target oral digunakan sesuai kondisi. Namun, jika fungsi hati sudah menurun jauh, obat yang sama pun dapat memperparah kerusakan hati, sehingga keputusan untuk memulai pengobatan harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.
Tanya Jawab — Jika Ada Hepatitis B, Apakah Obatnya Harus Tetap Diminum Selama Kemoterapi?
Ya, obat harus tetap dilanjutkan. Prinsipnya, obat antivirus tidak dihentikan, baik sebelum maupun sesudah pengobatan kanker hati, dan persiapan dilakukan agar pasien bisa membawa resep obat dari Korea untuk dilanjutkan setelah kembali ke negara asal.
Sumber dan Catatan Penting
Artikel ini disusun berdasarkan catatan tentang kanker hati (National Cancer Information Center, National Cancer Center Korea, pedoman pasien NCCN, SEER) serta catatan prinsip pengelolaan efek samping kemoterapi (National Cancer Information Center, National Cancer Institute AS/NCI). Konten ini disediakan untuk tujuan informasi medis umum, dan metode diagnosis, pengobatan, serta hasilnya dapat berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing pasien. Diagnosis dan pengobatan yang tepat harus selalu ditentukan melalui konsultasi langsung dengan tim medis yang menangani.
Terima pendapat tertulis
Kirimkan rekam medis Anda; dokter rumah sakit rujukan tersier akan menelaahnya dan dalam 5 hari kerja kami serahkan surat pendapat, 3 pilihan rumah sakit, dan perkiraan biaya.
Ajukan tinjauan awal